LIFTING CARGO PLAN (PERENCANAAN PENGANGKATAN)

Lifting plan dibuat sebelum dilakukan pekerjaan pengangkatan yang menggunakan alat berat seperti TMC (Truck Mounted Crane), Mobile Crane, Tower Crane, Crawler Crane, dan lain sebagainya.  Perencanaan ini sangat penting karena menyakut keselamatan matrial yang diangkat agar tidak terjadi insident. Apalagi matrial yang akan diangkat bernilai milliaran.

Sebelum membuat lifting plan, ada beberapa data penting yang perlu kita siapkan yaitu :

Dimensi dan berat beban yang akan diangkat

Jenis dan kapasitas crane yang akan digunakan

Kondisi landasan dasar dan ruang gerak crane pada area pengangkatan

Panjang webbing / wire sling yang akan digunakan

Setelah itu, kita mulai mengidentifikasikan Load chart  dari crane yang akan digunakan untuk mengetahui kapasitas angkat crane optimum pada derajat boom, panjang boom yang akan digunakan (working radius), panjang outrigger dan jarak as ke as antar crane dan beban yang akan diangkat.

Kemudian, kita harus memeriksa kondisi crane dan lifting gear untuk melihat apakah ada kebocoran pada hydraulic system atau tidak, keretakan atau kerusakan pada hook dan wire sling atau tidak, maintenace record, dan sertifikat peralatan beserta operatornya. Selanjutnya lakukan pengolahan data untuk menentukan panjang boom yang akan digunakan, dan berat beban yang boleh di gunakan lewat load chart:

Kita ambil contoh untuk mengangkat beban misal container atau porta cabin dengan berat total maksimum 5 ton, kemudian kita akan menggambar. Dari gambar tersebut, kita bisa mendapatkan berapa derajat kemiringan dari boom atau boom angle dari crane yang akan dilakukan dalam proses pekerjaan pengangkatan tersebut. Tidak hanya boom angle saja, tapi kita bias juga mendapat berapa jarak yang aman antara crane dan mobil pengangkut yang digunakan.

Dalam membuat load chart (misat 25 Ton), kita harus mendapatkan beberapa hal, yaitu;

  1. Data crane, merk dan kapasitasnya.
  2. Beban total yang diangkat. Jumlah antara berat beban utama yang diangkat + berat total lifting gear yang digunakan yang dikali kan dengan Dynamic Factor diambil dari table di bawah ini.
  3. Selanjutnya kita harus mengetahui prosentase kondisi crane yang kita gunakan dari hasil inspeksi. Jika kita mengambil prosentasi kondisi crane 95 % dikarenakan dari hasil inspeksi crane dinyatakan aman, tidak ada kebocoran hiydraulic dan tahun penggunan dibawah 2 tahun, maka kita akan korelasikan perhitungannya dengan beban aman yang ada dalam load chart sebagai berikut:
  • Kondisi crane : 95 %
  • Berat yang diperbolehkan sesuai load chart: 7.1 ton
  • Maka Lifting capacity: 7.1 ton x 95 % = 6.745 ton
  • Setelah itu kita harus menghitung Safety Factor untuk lifting activity ini dengan cara membagi lifting capacity dengan Total beban (total beban x DAF), Safety factor = lifting capacity / total load = 6,745 ton / 6,16 ton = 1.09
  • Jika kita mendapat lifting capacity lebih kecil dari beban angkat maksimal yang diperbolehkan di load chart, maka dapat dinyatakan proses pengangkatan aman untuk dilakukan

Setelah Lifting plan dibuat, ada baiknya didiskusikan oleh beberpa pihak terkait untuk mendapatkan persetujuan. Ingatlah, barang yang diangkat bernilai besar maka harus sekecil mungkin resiko yang akan terjadi.

Kerja cerdas – Kerja safety.

 

YOUR REFERENCE

HANDLING HEAVY LIFT CARGO

MENGENAL ASURANSI MARINE CARGO

 

Add Comment